Survei Pelecehan di Ruang Publik (2019)

Survei ini diinisiasi oleh Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) dan difasilitasi oleh Change.org Indonesia. Hasil dari survei ini akan menunjukkan gambaran besar tentang Pelecehan di Ruang Publik di Indonesia dan efeknya kepada individu yang mengalaminya. Survei ini juga akan membantu kita untuk secara tepat merespon masalah ini di Indonesia.

DEMOGRAFI RESPONDEN

Survei ini dibuka selama 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16HAKTP / 16DaysofActivism) tahun 2018, yaitu dimulai pada tanggal 25 November 2018 dan ditutup pada tanggal 10 Desember 2018. Survei terbuka ini diikuti oleh masyarakat di seluruh Indonesia secara daring dengan total responden sebanyak 62.224 orang.

Gender

Perempuan: 38.776 (62.3%)
Laki-laki: 23.403 (37.6%)
Gender lainnya: 45 (0.10%)

Usia

di bawah 16 tahun: 1.156 (1.90%)
16-25 tahun: 35.461 (57%)
26-50 tahun: 23.336 (37.50%)
51-75 tahun: 2.262 (3.60%)
di atas 76 tahun: 19 (0.00%)

Latar Belakang Pendidikan

Responden memiliki latar belakang pendidikan yang beragam dari "tidak bersekolah", "SD atau setara", hingga "S3 atau setara".

Wilayah / Domisili

Responden tersebar di 34 provinsi di Indonesia, dengan 28.13% responden tinggal di kabupaten dan 71.30% responden tinggal di kota.

HASIL SURVEI

  • 3 dari 5 Perempuan pernah mengalami pelecehan di ruang publik (64% dari 38.776 Perempuan)
  • 1 dari 10 Laki-laki pernah mengalami pelecehan di ruang publik (11% dari 33.403 Perempuan)
  • 69% dari 45 Gender lainnya pernah mengalami pelecehan di ruang publik
  • Perempuan memiliki kecendrungan pernah mengalami pelecehan di ruang publik 13 kali lebih besar daripada laki-laki
  • 1 dari 2 korban mengalami pelecehan sebelum menginjak usia 16 tahun
  • 3 teratas perasaan responden setelah mengalami pelecehan: tidak nyaman, merasa direndahkan, marah
  • LGBTQ+, Agnostik, Hidup dengan Disabilitas, Penghayat, dan Ateis memiliki presentasi pernah menerima perlakuan pelecehan lebih tinggi daripada identitas lainnya
  • Dampak jangka panjang mengindikasikan adanya insidious trauma dan pembatasan ruang gerak. Responden meningkatkan pertahanan diri, pembatasan aktivitas (seperti tidak keluar malam atau jalan sendiri dan perubahan rutinitas), mengubah metode transportasi, dan perubahan perilaku.
  • Kejadian pelecehan paling banyak terjadi di siang hari (35%). 25% terjadi di sore hari, 21% terjadi saat malam hari, dan 17% terjadi di pagi hari.
  • Bentuk pelecehan yang paling sering dialami; Verbal (60%— komentar atas tubuh, siulan, klakson, suara kecupan / ciuman, komentar rasis / seksis, komentar seksual, didekati terus), Fisik (24%— disentuh, dihadang, digesek, dikuntit, diintip, difoto), & Visual (15%— main mata, gestur vulgar, dipertontonkan masturbasi, diperlihatkan kelamin)
  • 3 teratas lokasi yang paling banyak terjadi pelecehan: jalanan umum (33%), transportasi umum termasuk halte (19%), dan Sekolah dan Kampus (15%)
  • 5 teratas transportasi umum yang paling banyak terjadi pelecehan: Bus (36%), Angkot (30%), KRL (18%), Ojek / Taksi Online (18%), dan Ojek / Taksi Konvensional (6%)
  • 5 teratas tipe pakaian yang korban gunakan saat mengalami pelecehan: rok & celana panjang (18%), hijab (17%), baju lengan panjang (16%), seragam sekolah (14%), dan baju longgar (14%)
  • 56% korban berani melawan pelaku pelaku pelecehan
  • saat dilawan, 38% pelaku pura-pura bodoh; 36% pelaku mengolok dan mengumpat.
  • 43% responden pernah mengintervensi pelecehan seksual di ruang publik yang dialami orang lain.
  • 92% responden merasa terbantu saat ada orang lain mengintervensi pelecehan yang dialami.
  • perempuan cenderung lebih banyak mengalami pelecehan di transportasi umum daripada laki-laki
  • 5 dari 10 Perempuan pernah mengalami pelecehan di transportasi umum (48,9% dari 12.004 Perempuan)
  • 2 dari 10 Laki-laki pernah mengalami pelecehan di transportasi umum (27% dari 711 Laki-laki)